Gema Ombak di TAT Art Space, Denpasar

DENPASAR, Kilasbali.com – Perupa asal Rusia, Sofiya Shukova menggelar pameran tunggal bertema Gema Ombak di TAT Art Space, Denpasar, dari tanggal 23 Agustus – 7 September 2025.
Sofiya memamerkan 21 karya komptemporer yang terbuat dari bahan sampah plastik yang dipunggutnya dari pantai yang ada di Bali.
Sampah plastik itu mulai dari jaring ikan yang dibiarkan hanyut, mainan yang dibuang dari tangan anak-anak, sandal bekas, hingga tali plastik.
Dalam karyanya, He, Her, Sofiya menjahit jaring bekas menjadi bentuk seorang nelayan dan istrinya, di mana kehidupan mereka terjalin dengan plastik yang mengancam masuk ke dalam rahim sang istri.
Pada karya berjudul Oyster Baby, bentuk-bentuk janin bersarang di dalam cangkang tiram, menggemakan penelitian ilmiah yang mengungkapkan bagaimana mikroplastik masuk ke dalam kehidupan bahkan sebelum bayi dilahirkan.
Karya Shot melucuti pistol mainan plastik yang ditemukan di Pantai Nyanyi, mengubahnya menjadi simbol penolakan terhadap kekerasan dan polusi.
Setiap karya adalah pesan yang terdampar di pantai, bukan hanya sekedar sampah, tetapi kesaksian.
“Saya berharap pameran ini membangun kesadaran kolektif yang lebih besar sehingga kita dapat membuat pilihan yang lebih baik untuk melindungi laut,” kata Sofiya Shukova.
Sementara itu, Pendiri Aatelier, Alvita mengatakan, pameran seni ini dikelola oleh Aatelier Bali, sebuah platform yang didedikasikan untuk mendukung seniman muda dan baru di Indonesia.
Didirikan dengan keyakinan bahwa seni harus dapat diakses dan terlibat secara sosial, Aatelier menghubungkan seniman dengan audiens sekaligus memupuk kolaborasi yang melampaui dinding galeri.
Seri pameran OCEAN-nya mengeksplorasi hubungan antara kreativitas dan tanggung jawab lingkungan, memperkuat suara-suara yang berbicara tentang isu-isu ekologi.
“Ini adalah ketiga kalinya kami mengusung tema laut. Rasanya ini adalah cara saya dapat berkontribusi pada dua hal yang saya cintai: seni dan laut.
“Pameran seperti ini memungkinkan kami untuk menciptakan ruang bagi seniman untuk berbicara dengan kuat, sambil mengingatkan kita pada ekosistem yang menopang kita. Kepedulian terhadap lingkungan adalah isu universal yang melampaui batas-batas negara,” pungkasnya. (jus/kb)

















