Blue Future Forum 2026 Dorong Ekowisata Bahari Bali Berkelanjutan

DENPASAR, Kilasbali.com – Yayasan Ecoway Pesisir Lestari (Ecoway Conservation) menggelar Blue Future Forum 2026, bagian dari rangkaian kegiatan Eco Inovatif, untuk mendorong pengembangan sustainable marine tourism atau pariwisata bahari berkelanjutan di Bali.
Ketua Ecoway Conservation, Gagah Gumelar Wicaksono, mengatakan kegiatan tersebut mendapat dukungan dari PLN Peduli dan melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali.
“Kegiatan ini untuk mengembangkan sustainable marine tourism agar ekowisata yang ada di Bali bisa berkelanjutan,” ujarnya di sela kegiatan di Dharma Negara Alaya, Pemkot Denpasar, Sabtu (12/9).
Menurut Gagah, forum tersebut menyasar masyarakat lokal, pelaku usaha pariwisata, hingga wisatawan agar turut menerapkan praktik-praktik wisata yang lebih ramah lingkungan. “Terutama di kegiatan bawah laut, agar bisa lebih ramah lingkungan lagi dan bisa terjaga serta berkelanjutan,” katanya.
Blue Future Forum 2026 menghadirkan enam narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Yayasan Penyu Indonesia, Gili Shark Foundation Lombok, Eco Hero Nusa, Labuan Bajo Snorkeling, Indo Ocean Foundation, serta akademisi dan peneliti dari Universitas Udayana.
Gagah mengatakan keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif sekaligus memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat memiliki dasar ekologis dan riset yang kuat.
Forum tersebut membahas tiga topik utama dalam tiga panel. Panel pertama membahas aspek ekologi, termasuk kondisi laut, ekosistem penyu, dan terumbu karang. “Selanjutnya, di panel kedua membahas praktisi eco-diving dan eco-snorkeling, agar teman-teman bisa melakukan kegiatan wisata yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Panel ketiga membahas peran akademisi dan peneliti dalam mendukung praktik wisata bahari yang ramah lingkungan melalui riset, pemantauan, dan evaluasi yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan PLN melalui program PLN Peduli. SRM Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali, Andri Oktavian, mengatakan keterlibatan PLN merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan.
Menurut Andri, PLN Peduli diarahkan untuk mendukung program-program strategis pemerintah, termasuk program yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan pengembangan energi ramah lingkungan.
“PLN akan selalu terlibat dan support dengan kegiatan-kegiatan seperti yang dilaksanakan oleh Yayasan Ecoway,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, PLN berperan sebagai fasilitator dengan memberikan dukungan untuk edukasi, pelaksanaan seminar, serta kegiatan yang berkaitan dengan terumbu karang dan pelestarian lingkungan laut.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali, I Putu Sumardiana, yang membuka kegiatan tersebut menyambut baik pelaksanaan Blue Future Forum 2026.
Menurut Sumardiana, kegiatan yang melibatkan yayasan, PLN Peduli, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan akademisi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat pengelolaan kawasan konservasi daerah.
Ia mengatakan pengelolaan kawasan konservasi setidaknya harus memperhatikan tiga aspek utama, yakni ekologi, pariwisata, dan tata kelola.
Dari sisi ekologi, keberadaan terumbu karang dan biota laut harus dijaga. Sementara dari sisi pariwisata, potensi bahari Bali perlu dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.
“Kalau berbicara pariwisata bahari, banyak wisatawan asing melihat laut dan apa yang ada di dalamnya, bukan sekadar melihat pantainya,” kata Sumardiana.
Ia menegaskan pengembangan pariwisata bahari tidak boleh mengabaikan aspek ekologis. Terlebih, laut memiliki peran penting bagi Bali, baik sebagai penopang sektor perikanan maupun pariwisata.
“Jangan hanya sekadar mengeksploitasi laut, tapi kewajiban juga perlu dilaksanakan. Laut ini penting bagi Bali,” tegasnya.
Sumardiana menyebut Bali memiliki sejumlah kawasan konservasi yang menjadi bagian penting dalam menjaga sumber daya kelautan. Pemerintah juga tengah menyiapkan sosialisasi secara lebih masif mengenai keberadaan dan pengelolaan kawasan-kawasan konservasi tersebut.
Selain menjaga ekosistem, pengelolaan kawasan konservasi diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir sekaligus mendukung peningkatan pendapatan daerah.
Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan visi pembangunan Bali, khususnya Segara Kerthi, yang menempatkan laut sebagai salah satu unsur penting yang harus dijaga dan dipelihara.
“Harapannya kawasan konservasi tetap lestari, berkelanjutan serta memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat pesisir maupun pendapatan daerah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kesadaran pelaku usaha wisata bahari, khususnya operator diving dan aktivitas wisata bawah laut lainnya, mengenai kewajiban menjaga kawasan konservasi.
Karena itu, forum seperti Blue Future Forum dinilai penting sebagai ruang untuk mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, dan organisasi lingkungan dalam membangun pola pengelolaan pariwisata bahari yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekosistem laut Bali.(jus/kb)

















