
DENPASAR, Kilasbali.com– Setelah melakukan perjuangan pengajuan bantuan ke pusat yang berlangsung hampir selama satu tahun, akhirnya Taman Budaya Bali berhasil mendapatkan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Direktorat Jendral Kebudayaan Republik Indonesia, senilai Rp1,677 miliar.
Kepala UPT Taman Budaya Bali, I Gusti Agung Ngurah Diputra mengatakan, sebelumnya pihaknya mengajukan bantuan senilai Rp2,5 miliar, namun karena Taman Budaya seluruh Indonesia juga mengajukan dana yang berpariasi jumlahnya, akhirnya oleh Dirjen Kebudayaan diberikan alokasi dana yang sama ke masing-masing taman budaya.
“Hampir rata kisaran nominalnya, semua mendapatkan bantuan DAK, termasuk juga Museum Bali, dan juga Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB),” tuturnya di Denpasar, Rabu (9/1/2019).
Menurutnya, DAK tersebut dialokasikan 65 persen untuk penguatan publik jenis pagelaran, pameran, dan workshop, sedangkan sisanya 35 persen dialokasikan untuk rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan prasarana (sarpras).
“Sebagai awal pengerjaan untuk DAK, kami rehabilitasi Museum Mahudara Mandara Giri Bhuana (MMGB), karena bagian atap seperti plafon, ijuk, kolam ikan serta yang lainnya sudah rusak dan memang harus diperbaiki. Anggaran untuk perbaikan gedung ini kurang lebih Rp150 juta,” jelas Agung Diputra.
Lebih lanjut mengatakan, MMGB yang diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Mashuri, SH pada 14 Pebruari 1973, belum pernah ada perbaikan sama sekali. Padahal, museum ini memiliki berbagai koleksi lukisan maestro kenamaan, seperti Gusti Nyoman Lempad, Hendra Gunawan, Sutab Chaidar, Marijan Koop, Key It Tanaya, Ari Smit, serta maestro pematung Ketut Muja, Nyoman Mura, dan maestro lainnya.
“Koleksi yang dipersembahkan oleh para maestro adalah karya seni yang terbaik, dan khusus disumbangkan langsung untuk koleksi MMGB,” terangnya seraya mengatakan total ada 930 enam jenis, yakni karya seni dari kayu, kulit, kain, gading, lukisan, dan perak.
Sementara, Kasi Penyajian dan Pengembangan Seni, Taman Budaya Bali, Anak Agung Gede Oka menambahkan, pihaknya saat ini sedang menggodok sebanyak delapan kali pagelaran di tahun 2019 ini, yang mengambil dana dari DAK dengan total anggaran Rp779 juta. Yakni untuk pagelaran tradisional sebanyak empat kali, disabilitas dua kali, dan modern sebanyak dua kali.
“Untuk pameran, akan berlangsung sebanyak tiga kali. Anak-anak disabilitas satu kali, Perupa Perempuan Bali sekali, dan anak-anak dari sanggar Taman Budaya kita adakan sekali,” jelas Agung Oka.
Dalam kesmpatan tersebut, Agung Oka juga mengungkapkan, pihak Taman Budaya juga memberikan bantuan bagi sanggar-sanggar yang akan mengisi pagelaran senilai Rp50 juta persanggar dengan catatan, sanggar tersebut harus berizin, memiliki NPWP. “Karena kita menggunakan uang pemerintah. Jadi persyaratannya harus lengkap,” tandasnya. (jus/*KB).

















