McKinsey dan SecondMuse Company Dukung Pergub Sampah Plastik

DENPASAR, Kilasbali.com – Pemerintah Provinsi Bali sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai, sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 97 tahun 2018 yang mengatur pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai.
“Sejalan dengan visi dan misi kami, yang ingin membangun kehidupan yang harmonis termasuk harmonis dengan alam,” jelas Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) saat menerima audensi organisasi McKinsey dan SecondMuse Company di ruang tamu Kantor Wakil Gubernur Bali, Renon, Denpasar pada Kamis (23/5/2019).
Menurut Penglingsir Puri Ubud ini, Pemprov Bali mendukung upaya berbagai pihak yang ingin membantu menanggulangi permasalahan sampah, khususnya sampah palstik.
“Kami akan support dengan senang hati jika ada bantuan, apalagi ada solusi untuk mengurangi dampak sampah plastik di Bali,” tambahnya.
Lebih lanjut mengatakan, dampak sampah plastik terutama kantong plastik, sedotan serta styrofoam sudah demikian berlebihan di Bali hingga menimbulkan pencemaran hingga mengganggu kehidupan biota di laut.
“Untuk itu kami harus batasi karena penggunaannya sudah melampaui kebutuhan. Juga kami jadwalkan secara berkala gerakan bersih-bersih sampah plastik. Beban sampah plastik ini harus dikurangi,” jelasnya.
Sementara itu, Program Manager of Sustainable Communities dari McKinsey, Ella Flaye menyampaikan, pihaknya bersama-sama dengan berbagai stakeholder membangun sistem pengelolaan sampah di desa-desa dengan memaksimalkan manfaat dari daur ulang sampah plastik dengan Bali dan Kota Buenos Aires, Argentina sebagai pilot project.
“Program ini juga bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan komunitas lokal, serta mempercepat transisi ke ekonomi sirkular (circular economy). Untuk itu kami juga mendorong kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memanfaatkan produk daur ulang ini,” jelas Elle.
Tujuan kerjasama ini, menurutnya meliputi pengoptimalan pengumpulan sampah, yaitu dengan mengedukasi penduduk tentang pentingnya memilah sampah, meningkatkan efisiensi fasilitas pemilahan dengan pelatihan dan insentif.
“Bali dan Indonesia kami harapkan jadi pelopor di Asia Tenggara,” ujarnya.
Elle juga menyebut, kebijakan dan regulasi khusus mengenai sampah plastik di Bali sangat luar biasa karena langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari warga untuk lebih aware dengan permasalahan sampah plastik.
“Momentum ini sangat bagus dan saya lihat sejalan dengan program kami dan kita bergerak kearah yang sama,” tandasnya. (rls/kb)

















