Limbah Mepatung Galungan Ancam Irigasi dan Sungai

GIANYAR, Kilasbali.com – Tidak hanya patungan babi, aktivitas pemotongan para pengusaha pun kini menuai sorotan.
Karena menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, aktivitas pembersihan babi di saluran irigasi maupun sungai masih banyak ditemukan. Padahal limbah babi ini sangat membahayakan kesehatan dan lingkungan.
Kondisi ini juga diakui oleh pihak pemerintah. Pemotongan babi di berbagai wilayah Bali meningkat tajam. Namun, lonjakan ini tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan limbah yang memadai.
Akibatnya, limbah organik dari darah, isi perut, dan sisa daging berpotensi mencemari lingkungan serta menimbulkan berbagai penyakit akibat bakteri dan parasit berbahaya.
Kepala UPTD Puskeswan III Kabupaten Gianyar sekaligus anggota Tim KIE Media PDHI Bali, drh. Arya Dharma, Kamis (13/11) mengungkapkan bahwa hasil kajian menunjukkan pembuangan limbah pemotongan secara terbuka dapat meningkatkan kadar amonia dan bahan organik di lingkungan.
Kondisi tersebut memicu pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Salmonella spp., Staphylococcus aureus, serta parasit seperti Taenia solium (cacing pita babi) dan Trichuris suis (cacing cambuk).
“Pembuangan limbah secara terbuka berpotensi menyebabkan pencemaran air tanah dan menimbulkan penyakit zoonosis. Oleh karena itu, perlu adanya penerapan sistem pengolahan limbah terpadu untuk meminimalkan risiko kesehatan dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Limbah cair dan padat dari proses pemotongan, apabila dibuang langsung tanpa pengolahan, dapat menjadi sumber pencemaran air dan tanah.
Kandungan protein dan lemak tinggi dalam darah serta isi perut babi mempercepat pertumbuhan mikroba pembusuk, yang tidak hanya menimbulkan bau menyengat dan gangguan estetika, tetapi juga menjadi media tumbuh bagi vektor penyakit.
Bakteri-bakteri tersebut dapat memicu diare, infeksi saluran pencernaan, infeksi kulit, gangguan pernapasan, hingga keracunan makanan. Selain itu, keberadaan parasit seperti Taenia solium dan Trichuris suis dapat menyebabkan penyakit cacingan dan disentri balantidiasis pada manusia yang terpapar air atau tanah terkontaminasi.
Dampak terhadap masyarakat juga tidak dapat diabaikan. Air dari sumber yang telah tercemar limbah berisiko tinggi menyebabkan infeksi saluran pencernaan, penyakit kulit, dan gangguan pernapasan akibat paparan gas hasil pembusukan.
“Menjelang perayaan Galungan dan Kuningan, pembuangan limbah pemotongan babi tanpa pengolahan berpotensi besar mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit akibat bakteri serta parasit patogen. Diperlukan pengawasan ketat dan edukasi kepada masyarakat serta pengelola pemotongan hewan agar menerapkan sistem sanitasi dan pengolahan limbah yang sesuai standar,” tegas Arya Dharma.
Sebagai langkah solusi, pihaknya menyarankan penerapan teknologi pengolahan limbah sederhana seperti biofilter atau biogas digester. Selain dapat mengurangi pencemaran, teknologi ini juga berpotensi menghasilkan energi alternatif ramah lingkungan dari proses penguraian limbah organik.
Dengan meningkatnya kesadaran dan pengawasan terhadap pengelolaan limbah, diharapkan masyarakat dapat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan tetap menjaga kesehatan lingkungan dan keselamatan publik. (ina/kb)

















