Petani Salak Tabanan Rugi Rp 30 Juta Akibat BBM Langka

TABANAN, Kilasbali.com – Kelompok petani salak gula pasir madu di Desa Munduktemu, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, mengalami potensi kerugian mencapai Rp 30 juta akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi sepanjang pekan lalu.
Krisis bahan bakar tersebut memaksa para petani membatalkan tiga agenda pengiriman komoditas dengan total volume mencapai 1,2 ton.
Hambatan pasokan bensin membuat armada transportasi tidak dapat mengangkut hasil kebun dari area perkebunan menuju gudang penyimpanan. Akibatnya, jadwal distribusi rutin mingguan ke sejumlah pelanggan antardaerah terpaksa ditunda.
Ketua Kelompok Tani Raja Buah Bali, Ogi Darmawan, membeberkan bahwa kendala bahan bakar operasional menjadi pemicu utama berhentinya proses pemetikan dan pengiriman buah di tingkat petani.
“Sulitnya BBM menyebabkan transportasi untuk membawa hasil panen dari kebun ke gudang mengalami kendala. Sehingga terpaksa kami batalkan permintaannya,” ujar Ogi Darmawan, Jumat (23/10).
Ogi mengungkapkan, sebanyak tiga jadwal pengiriman rutin yang dibatalkan tersebut meliputi dua paket pengiriman ke Jakarta serta satu paket pasokan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Total kuota permintaan yang batal dipenuhi mencapai 1.200 kilogram atau 1,2 ton.
Kendati kehilangan potensi pendapatan puluhan juta rupiah, Ogi memastikan para petani tidak sampai menanggung kerugian akibat komoditas membusuk di pohon.
Pasalnya, kegiatan pemetikan di areal kebun langsung dihentikan begitu kelangkaan BBM mulai merebak. Selain itu, pihak mitra pemesan juga memahami kendala krisis energi yang terjadi di Bali.
“Karena petani semuanya tidak ada bensin, panen terpaksa tidak bisa dilaksanakan saat itu. Beruntung, pihak pembeli memaklumi kondisi tersebut sehingga tidak ada penalti,” kata Ogi.
Lebih lanjut dijelaskan, nilai penjualan tertunda sebesar Rp 30 juta tersebut dikalkulasikan berdasarkan patokan harga salak gula pasir madu di tingkat petani sebesar Rp 25.000 per kilogram. Nominal ini merupakan estimasi pendapatan kotor sebelum dikurangi komponen biaya operasional harian.
Saat ini, rantai distribusi buah salak dari wilayah Pupuan telah berangsur pulih seiring ketersediaan BBM yang kembali normal sejak 19 Oktober 2026. Aktivitas pemetikan di kebun serta pengiriman kepada pelanggan rutin pun sudah berjalan seperti sedia kala.
“Kita harap kondisi pasokan BBM tetap stabil agar aktivitas panen dan distribusi tidak kembali terganggu. Kelancaran pasokan bahan bakar dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pengiriman, terutama karena permintaan salak gula pasir madu selama ini telah terjadwal setiap pekan,” harapnya.
Ogi menambahkan, produksi buah saat ini masih dalam periode normal dan belum memasuki fase panen raya yang diproyeksikan baru berlangsung pada Januari hingga Maret 2027.
Meski demikian, siklus panen raya tersebut berisiko mengalami pergeseran jadwal akibat imbas musim kemarau panjang. “Kalau tidak musim petani rata – rata bisa penuhi permintaan 4.800 – 5.600 per kilogram sebulan,” tandas Ogi. (c/kb)

















