
TABANAN, Kilasbali.com – Persoalan alih fungsi lahan dan keberlangsungan sektor pertanian di Kabupaten Tabanan akan menjadi perhatian serius pasangan bagi pasangan calon bupati dan wakil bupati Tabanan nomor urut 2, I Komang Gede Sanjaya dan I Made Dirga (Sanjaya-Dirga).
Pasangan Sanjaya-Dirga memandang sektor pertanian merupakan soko guru bagi aktivitas masyarakat Tabanan. Terlebih selama ini, Tabanan telah dikenal dengan julukan sebagai lumbung pangan dan lumbung berasnya Bali.
Demikian halnya saat UNESCO menetapkan Jatiluwih dan wilayah catur angga yang ada di sekitarnya sebagai warisan budaya dunia (WBD).
“Kami sangat mengapresiasi saat Jatiluwih dan catur angga di sekitarnya ditetapkan sebagai WBD,” ujar Sanjaya dalam debat terbuka Pilkada 2024 perdana pada Kamis (31/10).
Mengenai ancaman dicabutnya status WBD Jatiluwih sebagai akibat massifnya pendirian bangunan, Sanjaya tegas menyebut kuncinya ada pada penertiban. “Penertiban itu dimulai dari detil tata ruang yang dimiliki Tabanan,” katanya.
Sanjaya yang juga calon petahana itu menyebut, Tabanan baru saja merampungkan Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) dan penjabarannya ke dalam bentuk rencana detil tata ruang (RDTR) yang sudah menjadi acuan penertiban.
Menurutnya, penertiban bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan harus dilakukan dengan melibatkan komponen masyarakat sekitar. “Kita berkolaborasi melaksanakan ketertiban dan justru bermanfaat untuk kehidupan ekonomi pertanian di Jatiluwih,” jelasnya. (tim/kb)

















